4/11 dan Trump, Kritik atas Membusuknya Demokrasi

Demonstrasi 4/11 dan kemenangan Donald Trump memiliki banyak kesamaan. Di antaranya, kedua fenomena itu sama-sama memancar dari politik identitas, mengalir bersama sarana komunikasi baru bernama media sosial –Demokrat sampai menyalahkan Facebook atas kemenangan Trump, dan bermuara pada kemunculan alarm terhadap sistem politik demokratis yang berjalan di kedua negara.

Di antara ketiga poin yang saya sebut di atas, ihwal ketiga barangkali yang terlihat mengkhawatirkan. Poin pertama, politik identitas, adalah sebuah reaksi dari suatu masyarakat yang, menurut istilah Zizek, telah terdepolitisasi oleh mekanisme birokrasi administratif. Poin kedua, media sosial, lahir bersama perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua hal itu normal saja selama tidak mencederai norma-norma demokrasi.

Kekhawatiran tersebut memang beralasan. Kita sama-sama tahu retorika politik Trump yang akan melarang muslim memasuki AS, membangun tembok di perbatasan Meksiko, dan pelbagai wacana rasis dan eksklusif lain. Sementara di tanah air, meski demonstrasi 4/11 oleh komnasham dianggap sebagai demo paling bermartabat, tetapi dalam aksinya, terdengar di sana-sini orasi-orasi rasis dan ujaran kebencian lainnya.

Kendati demikian, riak-riak politik yang terjadi tersebut hanyalah gema dari suara sebenarnya yang diteriakkan dua fenomena itu: kritik terhadap struktur politik yang tengah membusuk. Untuk memahami, barangkali kita perlu mendengar pendapat Slavoj Zizek. Ketika ditanya siapa yang akan dia pilih bila ia adalah warga AS, Ia mengagetkan banyak orang. “Trump,” katanya dengan yakin. Apa pasal dia berkata demikian?

“Bila Trump menang, kedua partai besar AS (Republik dan Demokrat) akan dipaksa untuk  memikirkan ulang hal-ihwal mendasar –yang berjalan keliru. Keadaan baru –yang positif- dapat terjadi. Ini akan jadi revolusi. Proses politik yang segar akan muncul.”

Kemenangan Trump, menurut Zizek, adalah interupsi bagi mekanisme politik AS. Di balik pemberitaan media mainstream yang lebih berpihak kepada Hillary, sebenarnya tengah mengalir arus kecenderungan baru di akar rumput masyarakat Amerika. Terdapat kejenuhan atas cara kerja politik AS selama ini yang penuh retorika namun tak produktif. Sosok Donald Trump dengan latar belakang bisnis dan tampil apa adanya adalah jawaban bagi kebosanan publik terhadap politisi sekaligus mekanisme politik lama.

Di negara kita, perkara yang identik juga terjadi. Rakyat bosan dengan intrik politik yang dramatis namun tidak memberikan manfaat riil kepada rakyat. Kasus papa minta saham, naik turunnya ketua DPR, tarik ulur partai-partai pemerintah-oposisi tak ubahnya sinetron yang menggerus perasaan namun kosong esensi. Alih-alih merupakan pertarungan politik yang produktif, perhelatan para wakil rakyat lebih merupakan pergulatan kepentingan segelintir elit. Rakyat juga muak dengan hukum yang hanya berjalan sebagai prosedur. Ia legal namun tidak dapat memenuhi semangat keadilan. “Ia,” kata Derrida, “hanya penerapan terprogram dari proses yang diperhitungkan.”

Hal ini diperparah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah baru yang di satu sisi ingin mempercepat pembangunan namun belum kemput mempertimbangkan konsekuensi lintas dimensinya. Contoh paling nyata adalah bagaimana proyek reklamasi dipaksakan, padahal menurut Mentri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, belum menyediakan strategi komprehensif seperti pendalaman sungai sebagai ruang tampung air yang akan diurug.

Reklamasi, bagi saya,  ialah simbol yang amat tepat menggambarkan apa yang saya sebut sebagai membusuknya demokrasi. Ketika ia oleh banyak orang dianggap illegitimate secara prosedural hukum, ekologis maupun aspek etiko-sosialnya, ia tetap melenggang mulus karena kepentingan elit.

Ini mendemonstrasikan pernyataan Chantal Mouffe bahwa demokrasi saat ini, meski zahirnya mengupayakan berjalannya nilai-nilai demokratis, namun semakin dikontrol oleh kepentingan segelintir elit. Implementasi nilai-nilai neoliberalisme mengakibatkan pusaran arus politik semakin “memusat,” semua aliran ideologis semakin meliberalkan diri. Menurut Mouffe, kondisi ini yang mengantarkan merebaknya populisme yang banyak bersandar pada sensitifitas etnis atau agama tertentu.

Maka, demonstrasi 4/11 bukan sekedar ekspresi politik identitas, ada banyak preseden yang kebetulan mendapatkan ruang dalam aksi ini. Seperti Trump mengacaukan struktur politik AS yang kompleks, korup dan majal, 4/11 juga menginterupsi buruknya mekanisme politik Indonesia dan kecerobohan rezim mengelola kebijakan-kebijakannya. Ia adalah alarm bagi demokrasi yang tengah membusuk.

 

Iklan

Zih Anta!

Zih Anta!

Pantha rei key uden menei

Segala sesuatu berubah, demikian ujar Herakleitos. Baginya, seperti sungai, segala sesuatu mengalir dalam perubahan. MU yang pada awal musim terlihat seperti tim pesakitan kini mencetak rekor tak terkalahkan terpanjang klub dalam dekade terakhir, Antasari yang kemarin meringkuk di penjara kini mondar-mandir di Metro TV, orang yang pernah Anda cintai bisa jadi sekarang jadi orang yang Anda benci. Begitulah.

Termasuk dalam perubahan itu adalah ihwal fundamental dalam setiap insan, yang terkadang dianggap utuh dan kukuh: kepribadian dan kebiasaan seseorang. Saya tak memungkiri ada hal yang tak bergeser dari kepribadian orang, namun minimal ia mengalami modifikasi-modifikasi kecil yang terkadang membuatnya merasa bertransformasi menjadi orang yang berbeda.

Itu yang dirasakan guru sekaligus sahabat saya ketika kami bertemu liburan lalu. “Ketika itu saya demikian,” ujarnya. Hal itu berarti, bila ia dihadapkan dengan situasi yang sama dengan kejadian masa lalu, ia akan bertindak lain. Memang begitulah manusia, hingar bingar dunia –suka dan dukanya, mudah dan sulitnya- seringkali menimbulkan guncangan-guncangan fisik dan batin yang lantas setelahnya kita menjadi manusia yang berbeda.

Perubahan juga saya rasakan dengan diri saya sendiri. Saya tak lagi terobsesi menulis, hal yang sebenarnya saya sayangkan namun saya tolerir karena alasan medis, emosional dan spiritual. Dari aspek kesehatan, menulis, seperti proses kreatif lainnya, kata Murakami, memiliki banyak porsi antisosial dan tak sehat. Tubuh Anda tidak banyak bergerak dalam periode yang lama dan itu buruk untuk keturunan pengidap diabetes seperti saya. Apalagi gula darah saya telah melampaui ambang batas.

Secara emosional, saya gerah dengan politik yang ternyata tidak luput dari dunia kreatif seperti menulis. Tapi yang paling penting adalah karena saya merasa memiliki alasan yang absah secara spiritual: menulis hanyalah satu dari banyak cara manusia mempelajari kehidupan dalam perjalanan menuju Tuhan, tak beda dengan hal-ihwal lain seperti melukis, berpolitik, bernyanyi, dzikir dan hal yang menarik perhatian saya sekarang: bertani.

Ya, pada akhirnya saya sadar saya lahir dari anak petani. Tapi yang lebih penting dari itu adalah menemukan kenikmatan menjadi petani. Akhir-akhir ini saya tiba-tiba merasa dianugrahi kemampuan untuk menikmati kegundahan melihat benih yang mati, kehati-hatian mencabuti rerumputan, perasaan tak karuan saat matahari bersinar terik berhari-hari, dan salah satu yang paling nikmat adalah keriangan yang tetiba muncul bila hujan datang. Nuansa-nuansa subtil perasaan itu tak saya temui dahulu, ketika saya berpikir bercocok tanam adalah pekerjaan rendahan. Tapi bertani adalah seni, dan begitupula segala sesuatu; akan terasa menyenangkan bila kita menyikapinya sebagai lajur spiritual.

Ada pepatah Arab yang bilang begini, “petani adalah pemilik negeri dan rajanya yang sejati.” Barangkali kalimat itu mengekpresikan kebijaksanaan tradisional masyarakat agraris. Cara kerja dunia telah sangat berubah menjadi suatu sistem berbasis modal atau lebih jauh dari itu, late-capitalism, post-industry society atau apalah. Tapi justru di situ dunia semakin gaduh.

Keran informasi kini tidak hanya terbuka, tetapi bocor. Semua orang dapat mendapatkan berita dengan mudahnya. Sayangnya, alih-alih membuat orang lebih bijaksana, luberan informasi mengebiri nalar berpikir. Orang-orang bingung dan masyarakat limbung. Cekcok makin banyak di mana-mana.

Dunia juga dihadapkan dengan tantangan lain yang dijadikan inspirasi Dan Brown dalam novelnya Inferno, ledakan populasi. Itu berarti pula masalah ketersediaan pangan, tempat tinggal, penyebaran penyakit pada masa ketika Global Warming semakin menunjukkan bahaya nyata.

Saya bukan aktifis lingkungan, tapi saya mengerti bahwa solusi paling sederhana untuk dilakukan menghadapi semua tantangan itu adalah menanam pohon. Kita semua tidak bisa menunda “kiamat” yang akan terjadi karena di saat alam sudah cukup rusak, banyak manusia masih terlalu rakus sehingga terbutakan dari marabahaya di depan mata. Tapi barangkali kita bisa mengambil pelajaran dari kisah bijak dari berikut:

Syahdan, seorang raja bijaksana kerap berkeliling memeriksa keadaan negrinya. Ia terkenal dermawan dan suka memberikan hadiah bagi rakyatnya yang berhasil mencuri perhatiannya. Suatu hari ia menemukan Pak Tua yang menanam pohon zaitun. Sang raja bertanya, “dengan umurmu yang telah sedemikian senja, karena alasan apakah kau menanam pohon tersebut? Bukankah kau tak mungkin memetik hasilnya.” “Tuanku, barangkali saya tak dapat merasakan buahnya. Tetapi bukankah kita menikmati buah yang ditanam orang-orang sebelum kita? Saya menanam untuk generasi yang akan datang.”

Sang raja tertegun dan sontak berucap, “Zih anta!” Ucapan yang menyatakan kekaguman. Bilamana raja mengatakan itu, ia serta merta memberi orang yang membuatnya kagum dengan sekantung emas.

 

 

Perjumpaan

Kusiapkan puisi selamat datang
Pada mimpi yang berkelana
Dalam tubuh gempal
Dan hati yang selalu gemetar

Ceritakan padaku, kawan
Teriakan orang Bengali, warna gurun dan aroma mesiu
Kau yang pernah bangkit dari mati
Seperti Isa

Tapi di kota ini, katamu
Ada hati yang pergi
Selepas mawar
Dan beberapa kerumitan

Setidaknya, kataku
Sekarang kita di sini
Pada suatu tempat yang mustahil
Dari masa lalu

Senja Solo, 17/10/16

Marwah Daud dan Percaturan yang Remis

Marwah Daud bukanlah penggemar takhayul. Beliau adalah orang yang rasional, berpikir sistematis dan visioner. Setidaknya itu kesan yang saya dapatkan dari masa lalu, ketika di pesantren kami diadakan bedah bukunya, MHMMD (mengelola hidup dan merencanakan masa depan).

Karena buku itu, banyak teman saya di pesantren tiba-tiba menjadi visioner. Ada yang menulis lima tahun lagi akan menghasilkan apa, 10 tahun lagi akan menjadi apa, termasuk mengisi target apa saja yang harus dicapai hari ini, minggu ini, bulan ini. Saya? Barangkali karena alih-alih menyisihkan uang untuk membeli buku iu saya lebih memilih membeli bubur kacang ijo, sampai sekarang hidup saya tak terkelola dan berantakan.

Buku itu spektakuler. Tapi saya tak tahu detail, saya tak membelinya. Yang saya bisa simpulkan adalah buku itu benar-benar mengkristalkan semangat modernitas: kepercayaan akan kekuatan masing-masing individu serta keyakinan akan progres. Dua hal itu coba diwujudkan MHMMD dengan proses yang juga sangat modernis: efisiensi waktu, efektifitas kegiatan dan perencanaan dengan struktur.

Dari hal-ihwal itu, sepertinya tidak ada celah penulisnya menjadi pengikut mistikus pengganda (atau pengada?) uang seperti Dimas Kanjeng.

Saya sempat mengira Ibu MD tengah khilaf atau mengalami apa yang disebut Kyai Hasyim Muzadi sebagai instabilitas rohani. Tapi melihat keberaniannya tampil di televisi dan mendengar penjelasan versi beliau mengenai kejadian itu, saya pikir ada masalah yang lebih prinsipil dari hal ini. Bukan saja mengenai Ibu MD secara khusus, tetapi mengenai modernitas dan cara pandang kehidupan orang-orangnya.

Bu MD mengatakan dengan penuh antusias kalau ia tengah menjadi pioneer di Indonesia untuk suatu sains masa depan yang magis. Memang benar sains kontemporer sedikit banyak mengarah pada penjelasan tentang dunia yang lebih mistis. Tapi menurut hemat saya, pada titik ini, ia mencederai pandangan modernisnya. Ia melakukan lompatan kesimpulan yang terlalu jauh. Ilmu Dimas Kanjeng –kalaupun absah disebut ilmu- bukan perkembangan mutakhir fisika quantum atau sejenisnya. Jadi, argumen bahwa aktifitas DK dapat dijelaskan secara ilmiah adalah sesat pikir. Ia mengambil kesimpulan dari tren dunia ilmiah yang tengah berjalan untuk melegitimasi satu fenomena khusus. Hayo, ini namanya sesat pikir jenis apa? (Saya lupa, hehe)

Yang lebih penting dari kekeliruan ini adalah masalah yang lebih mendasar. Bu MD adalah seorang modernis, kesimpulan yang saya ambil dari aktifitas keilmuannya selama ini maupun yang saya baca dari buku MHMMD itu. Jika Luthfie Assyaukani menganggap kejadian yang baru menimpa MD adalah kelumrahan beragama yang katanya memang penuh sengkarut takhayul, menurut saya sebaliknya. Ini adalah gejala krisis pemikiran saintisme modern yang melulu empirik dan positivis. Mereka mencoba menjelaskan segala sesuatu dengan sains tetapi pada akhirnya harus sampai pada kenyataan bahwa alam yang melampaui indra tak bisa dinafikan. Akibatnya, guncanglah batin mereka dan itu terejawantah melalui apa yang dijelaskan Prof Azyumardi sebagai gejala spiritualisme new age di Barat sana. Itulah dilema modernitas, merasa telah mengangkangi dunia ini dengan penjelasan sensual ilmiah hanya untuk kebingungan menghadapi fenomena gaib yang lebih nyata dari panca indra.

Namun, modernitas tak seluruhnya salah dan asing dalam khazanah keislaman. Jika kita menelaah, akan kita temukan telah banyak pihak yang mencoba mengakulturasi pandangan hidup modernitas ke dalam dunia muslim. Gerakan-gerakan tajdid dan ishlah terinspirasi sebagian nilai-nilai positif modernitas. Saya tak ingin membahasnya satu persatu. Yang jelas, modernitas juga merasuk ke dunia Islam dengan derajat penerimaan yang berbeda-beda. Ada yang mengambil sekadar aspek efektifitas birokrasi, efisiensi sistem atau kritisisme individualisnya saja. Tetapi ada juga yang mengikuti kecenderungan saintisme, contohnya upaya salah seorang ulama menerjemahkan ayat-ayat mengenai jin sebagai bakteri dan virus.

Kaum modernis juga tidak sepenuhnya jadi the mere evil. Bila pada kaum modernis keterpurukan pada takhayul lebih disebabkan keringnya pemikiran modern dan kejenuhan kognitif, tradisionalis kerap terlampau masyuk dalam sikap hidup yang sangat mistis. Jika mendengar penuturan Kyai Hasyim berikut, “Hal-hal semacam ini banyak terjadi di Jawa Timur, wilayahnya NU,” pertarungan ini, ketegangan modernis dan tradisionalis menyikapi takhayul, jadi remis, kan?

Burkini dan Paradoks Liberalisme

Laizzes-faire? non.

Anda ingat kasus burkini, kan? Ya, belum lama ini, polisi Prancis memaksa seorang muslimah pemakai burkini (berasal dari kata burka dan bikini; pakaian renang tertutup) melepas bajunya di tepi pantai.

Kasus itu menunjukkan betapa liberalisme terkadang tak bisa setia dengan prinsip dasarnya sendiri: laizzes faire, let it go, biarin aja, nape! Prinsip itu memang sebenarnya ditujukan pada bidang ekonomi, biarkan setiap orang mengupayakan ikhtiar ekonomi terbaik bagi kepentingan masing-masing. Negara tak usahlah ikut campur. Nanti, dengan bantuan kemagisan gaib  (invisible hand), kumulasi dari semua itu akan membawa pada keuntungan bersama.

Tapi yang kita saksikan, liberalisme tak berhenti di situ karena memang kehidupan sosial adalah sebuah jalinan yang saling berkelindan. Ia meresap ke dalam aspek kehidupan lain. Termasuk politik dan kebijakan publik. Di sini, liberalisme yang pada dasarnya ingin memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu sebagai person(a), kadangkala tak bisa menghindar dari tindakan represif.

Contohnya kasus burkini ini. Liberalisme melarang burkini karena ia dianggap sebagai represi budaya tertentu terhadap sang muslimah. Karena itu sang muslimah harus diselamatkan kebebasan individualnya, ia harus melepas kekangan budaya dalam bentuk pakaian itu. Sampai di sini, liberalisme terlihat unyu-unyu sekali.

Masalahnya, bagaimana jika muslimah itu mengenakan burkini bukan lantaran kekangan budaya seperti praduga liberalis, tetapi sebagai pilihan individu secara sadar? Bukankah tindakan polisi itu justru menindas kebebasan sang muslimah?

Mari kita bertanya lebih jauh, jika berburkini adalah kekangan budaya, apakah mereka yang mengenakan bikini benar-benar terinspirasi dari suara hati sendiri. Bukan lantaran bentuk tekanan budaya baru bernama fashion?

Bagi Foucault, tak ada yang berubah dari peradaban manusia. Kita beralih dari satu hegemoni kuasa ke dalam hegemoni yang lain. Selalu ada struktur kuasa yang menguasai umat manusia, hanya pola-polanya saja yang bertransformasi. Orang-orang “modern” mungkin menyebut raja-raja, kepala suku/adat, ulama sebagai institusi sosial yang melakukan tekanan represif. Tetapi apakah propaganda media: gambar-gambar bilboard, iklan televisi, branding, diskon-diskon bukan mekanisme yang juga mengekang kebebasan manusia?

Filosofi Mantan

“Yang fana adalah cinta, mantan abadi.” ~ Anonim

Mantan adalah yang lain (the other), tetapi ia lain daripada yang lain-lain. Ia telah menjadi bagian dari diri kita. Ia membentuk bagaimana kita berpikir, bertindak dan membuat keputusan. Ia adalah constitutive other.

Teman saya, sebut saja namanya Dahlan, memilih beralih kuliah dari kampus idamannya karena di sana ada mantan. Banyak yang terintimidasi cepat menikah karena sang mantan menyebar undangan. Tak sedikit orang yang mengalami perubahan cara pikir akibat pengalaman jeluk, bisa manis atau pahit, dengan sang mantan. Ada yang berganti cara mengurutkan skala prioritas dalam hidup. Ada yang mulai memahami manusia dengan perspektif baru. Bahkan ada yang mengalami perubahan spiritual radikal, seperti bagaimana memaknai hidup atau relasi dengan Tuhan, karena mantan.

Mengapa mantan, yang notabenenya adalah orang lain, menjadi bagian dari diri kita dapat dijelaskan dengan alegori majikan dan budak Hegel. Hegel menceritakan itu untuk mengupamakan bagaimana manusia menemukan kesadaran tentang diri sendiri, identitas pribadi. Menurut Hegel, kita hanya bisa memahami diri sendiri, melalui orang lain. Majikan hanya dapat mengidentifikasi dirinya sebagai majikan, karena adanya budak yang menyadari dirinya sebagai budak. Ketika si budak pergi, tak ada majikan atau budak. Dengan begitu, orang lain adalah tak bisa dipisahkan dari diri kita karena ia membentuk bagian dari kesadaran kita tentang diri sendiri. Dalam hal ini, mantan dengan kenangannya, telah membentuk kita menjadi satu persona dengan kesadaran tertentu. Tetapi berbeda dengan majikan yang merupakan status sosial, kesadaran diri yang ditimbulkan mantan adalah status psikis: sebuah persona yang tak hilang begitu saja dengan perginya sang mantan.

Dari Hegel kita beralih ke Heidegger. Mantan adalah masa lalu yang tak terelakkan. Ia termasuk dari yang disebut Heidegger sebagai  faktizitat. Sebagai makhluk yang memiliki ingatan, manusia tak benar-benar mengenyahkan yang lalu. Kadang-kadang ia datang menyapa dalam kesendirian. Ketika kita sedang beristirahat dari kekinian yang membosankan. Jika sudah demikian, masa lalu adalah candu. Ia berbahaya tetapi tetap disesap-sesap dengan rasa nikmat, di antara sesengukan dan air mata.

Menurut Heidegger manusia terlempar ke dunia ini begitu saja dan segera menemukan dirinya terjebak dalam struktur yang tak bisa ia pilih atau hindari: keluarga, ras, agama, status sosial dan lain-lain. Semua itu adalah logos dalam istilah filsafat pra-sokratik: daya alamiah yang berjalan dengan semestinya tanpa bisa ditolak, semacam takdir. Mantan termasuk hal itu. Kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Pun tak bisa mencegah orang yang kita cintai menjadi mantan ketika faktor-faktor eksternal merintangi.

Mantan adalah suatu yang pelik. Jika Camus mengatakan  hanya ada satu  problem filosofis yang layak dipikirkan, yaitu bunuh diri, maka bagi saya, di antara sedikit sekali kejadian paling filosofis dalam hidup ini, dua diantaranya berkenaan dengan mantan: gagal menikah atau ditinggal menikah. Kalau Anda, bagaimana?

Memarafrasa

Selamat memarafrasa!

Barangkali itulah ucapan selamat datang bagi setiap bayi yang lahir. Hidup di bumi adalah memarafrasa ide, memodifikasinya sedemikian rupa hingga ia bisa direalisasi dalam kenyataan. Karena dunia adalah alam material yang fana, yang sakral tak dapat terejawantah seluruhnya, ia harus melebur dengan yang profan: tidak kudus, kotor, tapi nyata. Ideologi adiluhung kadang harus bercampur dengan darah, bau busuk mayat, dan tipu-tipu politis.

Menjadi manusia adalah memarafrasa yang suci.