Filosofi Mantan

“Yang fana adalah cinta, mantan abadi.” ~ Anonim

Mantan adalah yang lain (the other), tetapi ia lain daripada yang lain-lain. Ia telah menjadi bagian dari diri kita. Ia membentuk bagaimana kita berpikir, bertindak dan membuat keputusan. Ia adalah constitutive other.

Teman saya, sebut saja namanya Dahlan, memilih beralih kuliah dari kampus idamannya karena di sana ada mantan. Banyak yang terintimidasi cepat menikah karena sang mantan menyebar undangan. Tak sedikit orang yang mengalami perubahan cara pikir akibat pengalaman jeluk, bisa manis atau pahit, dengan sang mantan. Ada yang berganti cara mengurutkan skala prioritas dalam hidup. Ada yang mulai memahami manusia dengan perspektif baru. Bahkan ada yang mengalami perubahan spiritual radikal, seperti bagaimana memaknai hidup atau relasi dengan Tuhan, karena mantan.

Mengapa mantan, yang notabenenya adalah orang lain, menjadi bagian dari diri kita dapat dijelaskan dengan alegori majikan dan budak Hegel. Hegel menceritakan itu untuk mengupamakan bagaimana manusia menemukan kesadaran tentang diri sendiri, identitas pribadi. Menurut Hegel, kita hanya bisa memahami diri sendiri, melalui orang lain. Majikan hanya dapat mengidentifikasi dirinya sebagai majikan, karena adanya budak yang menyadari dirinya sebagai budak. Ketika si budak pergi, tak ada majikan atau budak. Dengan begitu, orang lain adalah tak bisa dipisahkan dari diri kita karena ia membentuk bagian dari kesadaran kita tentang diri sendiri. Dalam hal ini, mantan dengan kenangannya, telah membentuk kita menjadi satu persona dengan kesadaran tertentu. Tetapi berbeda dengan majikan yang merupakan status sosial, kesadaran diri yang ditimbulkan mantan adalah status psikis: sebuah persona yang tak hilang begitu saja dengan perginya sang mantan.

Dari Hegel kita beralih ke Heidegger. Mantan adalah masa lalu yang tak terelakkan. Ia termasuk dari yang disebut Heidegger sebagai  faktizitat. Sebagai makhluk yang memiliki ingatan, manusia tak benar-benar mengenyahkan yang lalu. Kadang-kadang ia datang menyapa dalam kesendirian. Ketika kita sedang beristirahat dari kekinian yang membosankan. Jika sudah demikian, masa lalu adalah candu. Ia berbahaya tetapi tetap disesap-sesap dengan rasa nikmat, di antara sesengukan dan air mata.

Menurut Heidegger manusia terlempar ke dunia ini begitu saja dan segera menemukan dirinya terjebak dalam struktur yang tak bisa ia pilih atau hindari: keluarga, ras, agama, status sosial dan lain-lain. Semua itu adalah logos dalam istilah filsafat pra-sokratik: daya alamiah yang berjalan dengan semestinya tanpa bisa ditolak, semacam takdir. Mantan termasuk hal itu. Kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Pun tak bisa mencegah orang yang kita cintai menjadi mantan ketika faktor-faktor eksternal merintangi.

Mantan adalah suatu yang pelik. Jika Camus mengatakan  hanya ada satu  problem filosofis yang layak dipikirkan, yaitu bunuh diri, maka bagi saya, di antara sedikit sekali kejadian paling filosofis dalam hidup ini, dua diantaranya berkenaan dengan mantan: gagal menikah atau ditinggal menikah. Kalau Anda, bagaimana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s