Marwah Daud dan Percaturan yang Remis

Marwah Daud bukanlah penggemar takhayul. Beliau adalah orang yang rasional, berpikir sistematis dan visioner. Setidaknya itu kesan yang saya dapatkan dari masa lalu, ketika di pesantren kami diadakan bedah bukunya, MHMMD (mengelola hidup dan merencanakan masa depan).

Karena buku itu, banyak teman saya di pesantren tiba-tiba menjadi visioner. Ada yang menulis lima tahun lagi akan menghasilkan apa, 10 tahun lagi akan menjadi apa, termasuk mengisi target apa saja yang harus dicapai hari ini, minggu ini, bulan ini. Saya? Barangkali karena alih-alih menyisihkan uang untuk membeli buku iu saya lebih memilih membeli bubur kacang ijo, sampai sekarang hidup saya tak terkelola dan berantakan.

Buku itu spektakuler. Tapi saya tak tahu detail, saya tak membelinya. Yang saya bisa simpulkan adalah buku itu benar-benar mengkristalkan semangat modernitas: kepercayaan akan kekuatan masing-masing individu serta keyakinan akan progres. Dua hal itu coba diwujudkan MHMMD dengan proses yang juga sangat modernis: efisiensi waktu, efektifitas kegiatan dan perencanaan dengan struktur.

Dari hal-ihwal itu, sepertinya tidak ada celah penulisnya menjadi pengikut mistikus pengganda (atau pengada?) uang seperti Dimas Kanjeng.

Saya sempat mengira Ibu MD tengah khilaf atau mengalami apa yang disebut Kyai Hasyim Muzadi sebagai instabilitas rohani. Tapi melihat keberaniannya tampil di televisi dan mendengar penjelasan versi beliau mengenai kejadian itu, saya pikir ada masalah yang lebih prinsipil dari hal ini. Bukan saja mengenai Ibu MD secara khusus, tetapi mengenai modernitas dan cara pandang kehidupan orang-orangnya.

Bu MD mengatakan dengan penuh antusias kalau ia tengah menjadi pioneer di Indonesia untuk suatu sains masa depan yang magis. Memang benar sains kontemporer sedikit banyak mengarah pada penjelasan tentang dunia yang lebih mistis. Tapi menurut hemat saya, pada titik ini, ia mencederai pandangan modernisnya. Ia melakukan lompatan kesimpulan yang terlalu jauh. Ilmu Dimas Kanjeng –kalaupun absah disebut ilmu- bukan perkembangan mutakhir fisika quantum atau sejenisnya. Jadi, argumen bahwa aktifitas DK dapat dijelaskan secara ilmiah adalah sesat pikir. Ia mengambil kesimpulan dari tren dunia ilmiah yang tengah berjalan untuk melegitimasi satu fenomena khusus. Hayo, ini namanya sesat pikir jenis apa? (Saya lupa, hehe)

Yang lebih penting dari kekeliruan ini adalah masalah yang lebih mendasar. Bu MD adalah seorang modernis, kesimpulan yang saya ambil dari aktifitas keilmuannya selama ini maupun yang saya baca dari buku MHMMD itu. Jika Luthfie Assyaukani menganggap kejadian yang baru menimpa MD adalah kelumrahan beragama yang katanya memang penuh sengkarut takhayul, menurut saya sebaliknya. Ini adalah gejala krisis pemikiran saintisme modern yang melulu empirik dan positivis. Mereka mencoba menjelaskan segala sesuatu dengan sains tetapi pada akhirnya harus sampai pada kenyataan bahwa alam yang melampaui indra tak bisa dinafikan. Akibatnya, guncanglah batin mereka dan itu terejawantah melalui apa yang dijelaskan Prof Azyumardi sebagai gejala spiritualisme new age di Barat sana. Itulah dilema modernitas, merasa telah mengangkangi dunia ini dengan penjelasan sensual ilmiah hanya untuk kebingungan menghadapi fenomena gaib yang lebih nyata dari panca indra.

Namun, modernitas tak seluruhnya salah dan asing dalam khazanah keislaman. Jika kita menelaah, akan kita temukan telah banyak pihak yang mencoba mengakulturasi pandangan hidup modernitas ke dalam dunia muslim. Gerakan-gerakan tajdid dan ishlah terinspirasi sebagian nilai-nilai positif modernitas. Saya tak ingin membahasnya satu persatu. Yang jelas, modernitas juga merasuk ke dunia Islam dengan derajat penerimaan yang berbeda-beda. Ada yang mengambil sekadar aspek efektifitas birokrasi, efisiensi sistem atau kritisisme individualisnya saja. Tetapi ada juga yang mengikuti kecenderungan saintisme, contohnya upaya salah seorang ulama menerjemahkan ayat-ayat mengenai jin sebagai bakteri dan virus.

Kaum modernis juga tidak sepenuhnya jadi the mere evil. Bila pada kaum modernis keterpurukan pada takhayul lebih disebabkan keringnya pemikiran modern dan kejenuhan kognitif, tradisionalis kerap terlampau masyuk dalam sikap hidup yang sangat mistis. Jika mendengar penuturan Kyai Hasyim berikut, “Hal-hal semacam ini banyak terjadi di Jawa Timur, wilayahnya NU,” pertarungan ini, ketegangan modernis dan tradisionalis menyikapi takhayul, jadi remis, kan?

Iklan

3 thoughts on “Marwah Daud dan Percaturan yang Remis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s