Zih Anta!

Zih Anta!

Pantha rei key uden menei

Segala sesuatu berubah, demikian ujar Herakleitos. Baginya, seperti sungai, segala sesuatu mengalir dalam perubahan. MU yang pada awal musim terlihat seperti tim pesakitan kini mencetak rekor tak terkalahkan terpanjang klub dalam dekade terakhir, Antasari yang kemarin meringkuk di penjara kini mondar-mandir di Metro TV, orang yang pernah Anda cintai bisa jadi sekarang jadi orang yang Anda benci. Begitulah.

Termasuk dalam perubahan itu adalah ihwal fundamental dalam setiap insan, yang terkadang dianggap utuh dan kukuh: kepribadian dan kebiasaan seseorang. Saya tak memungkiri ada hal yang tak bergeser dari kepribadian orang, namun minimal ia mengalami modifikasi-modifikasi kecil yang terkadang membuatnya merasa bertransformasi menjadi orang yang berbeda.

Itu yang dirasakan guru sekaligus sahabat saya ketika kami bertemu liburan lalu. “Ketika itu saya demikian,” ujarnya. Hal itu berarti, bila ia dihadapkan dengan situasi yang sama dengan kejadian masa lalu, ia akan bertindak lain. Memang begitulah manusia, hingar bingar dunia –suka dan dukanya, mudah dan sulitnya- seringkali menimbulkan guncangan-guncangan fisik dan batin yang lantas setelahnya kita menjadi manusia yang berbeda.

Perubahan juga saya rasakan dengan diri saya sendiri. Saya tak lagi terobsesi menulis, hal yang sebenarnya saya sayangkan namun saya tolerir karena alasan medis, emosional dan spiritual. Dari aspek kesehatan, menulis, seperti proses kreatif lainnya, kata Murakami, memiliki banyak porsi antisosial dan tak sehat. Tubuh Anda tidak banyak bergerak dalam periode yang lama dan itu buruk untuk keturunan pengidap diabetes seperti saya. Apalagi gula darah saya telah melampaui ambang batas.

Secara emosional, saya gerah dengan politik yang ternyata tidak luput dari dunia kreatif seperti menulis. Tapi yang paling penting adalah karena saya merasa memiliki alasan yang absah secara spiritual: menulis hanyalah satu dari banyak cara manusia mempelajari kehidupan dalam perjalanan menuju Tuhan, tak beda dengan hal-ihwal lain seperti melukis, berpolitik, bernyanyi, dzikir dan hal yang menarik perhatian saya sekarang: bertani.

Ya, pada akhirnya saya sadar saya lahir dari anak petani. Tapi yang lebih penting dari itu adalah menemukan kenikmatan menjadi petani. Akhir-akhir ini saya tiba-tiba merasa dianugrahi kemampuan untuk menikmati kegundahan melihat benih yang mati, kehati-hatian mencabuti rerumputan, perasaan tak karuan saat matahari bersinar terik berhari-hari, dan salah satu yang paling nikmat adalah keriangan yang tetiba muncul bila hujan datang. Nuansa-nuansa subtil perasaan itu tak saya temui dahulu, ketika saya berpikir bercocok tanam adalah pekerjaan rendahan. Tapi bertani adalah seni, dan begitupula segala sesuatu; akan terasa menyenangkan bila kita menyikapinya sebagai lajur spiritual.

Ada pepatah Arab yang bilang begini, “petani adalah pemilik negeri dan rajanya yang sejati.” Barangkali kalimat itu mengekpresikan kebijaksanaan tradisional masyarakat agraris. Cara kerja dunia telah sangat berubah menjadi suatu sistem berbasis modal atau lebih jauh dari itu, late-capitalism, post-industry society atau apalah. Tapi justru di situ dunia semakin gaduh.

Keran informasi kini tidak hanya terbuka, tetapi bocor. Semua orang dapat mendapatkan berita dengan mudahnya. Sayangnya, alih-alih membuat orang lebih bijaksana, luberan informasi mengebiri nalar berpikir. Orang-orang bingung dan masyarakat limbung. Cekcok makin banyak di mana-mana.

Dunia juga dihadapkan dengan tantangan lain yang dijadikan inspirasi Dan Brown dalam novelnya Inferno, ledakan populasi. Itu berarti pula masalah ketersediaan pangan, tempat tinggal, penyebaran penyakit pada masa ketika Global Warming semakin menunjukkan bahaya nyata.

Saya bukan aktifis lingkungan, tapi saya mengerti bahwa solusi paling sederhana untuk dilakukan menghadapi semua tantangan itu adalah menanam pohon. Kita semua tidak bisa menunda “kiamat” yang akan terjadi karena di saat alam sudah cukup rusak, banyak manusia masih terlalu rakus sehingga terbutakan dari marabahaya di depan mata. Tapi barangkali kita bisa mengambil pelajaran dari kisah bijak dari berikut:

Syahdan, seorang raja bijaksana kerap berkeliling memeriksa keadaan negrinya. Ia terkenal dermawan dan suka memberikan hadiah bagi rakyatnya yang berhasil mencuri perhatiannya. Suatu hari ia menemukan Pak Tua yang menanam pohon zaitun. Sang raja bertanya, “dengan umurmu yang telah sedemikian senja, karena alasan apakah kau menanam pohon tersebut? Bukankah kau tak mungkin memetik hasilnya.” “Tuanku, barangkali saya tak dapat merasakan buahnya. Tetapi bukankah kita menikmati buah yang ditanam orang-orang sebelum kita? Saya menanam untuk generasi yang akan datang.”

Sang raja tertegun dan sontak berucap, “Zih anta!” Ucapan yang menyatakan kekaguman. Bilamana raja mengatakan itu, ia serta merta memberi orang yang membuatnya kagum dengan sekantung emas.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s